Back
Perry Warjiyo
Governor, Bank Indonesia

Gubernur BI Perry Warjiyo Paparkan Proyeksi Ekonomi hingga 2027 di Hadapan DPR RI

🎥 Jun 10, 2026 📺 METRO TV ⏱ 16m
MetroTV, #DPR #Ekonomi #Fiskal #Moneter #Rupiah ----------------------------------------------------------------------- Follow juga sosmed ...
Watch on YouTube

About Perry Warjiyo

Perry Warjiyo, Governor of Bank Indonesia, has been actively communicating the central bank's policy stance and economic outlook in several meetings with government officials and the House of Representatives (DPR) during May and June 2026. On June 9, 2026, he announced that Bank Indonesia raised the BI rate by 25 basis points to 5.5%, a move he described as necessary to attract foreign portfolio investment and stabilize the rupiah, stating that the central bank "does not like raising interest rates" but that the adjustment was in line with market mechanisms. He also outlined five additional measures, including increasing the yield on SRBI instruments, providing incentives for swap hedging, reactivating repurchase agreement auctions for bank liquidity, and intensifying foreign exchange operations. Warjiyo emphasized that Indonesia's foreign exchange reserves remain "more than sufficient" to support the rupiah, citing an adequacy ratio above 115%. In his appearances before the DPR's Budget Committee on June 9-10, 2026, Warjiyo projected that the rupiah would strengthen to a range of Rp16,800 to Rp17,500 per US dollar by 2027, attributing this outlook to expectations of improving global economic conditions, strong domestic demand, and government policies such as downstreaming and the establishment of new state-owned enterprises. He also forecast economic growth of 5.1% to 5.9% for 2027, with inflation remaining within the target range of 1.5% to 3.5%. Earlier, on May 18, 2026, during a working meeting with Commission XI of the DPR, Warjiyo faced criticism from lawmakers over the rupiah's continued depreciation. Member Primus Yustisio called for his resignation, while Harris Turino questioned the effectiveness of BI's interventions. Warjiyo responded by thanking them for their input and explaining that BI and the government would formulate a new key performance indicator based on exchange rate stability rather than the exchange rate level, predicting the rupiah would strengthen in July and August to an average of Rp16,200 to Rp16,800 for the full year.

Source: AI-verified profile updated from Perry Warjiyo's recent appearances. Browse all interviews →

Transcript (25 segments)
✨ AI-enhanced transcript with speaker attribution
M
Moderator0:00
Silakan, Pak Gubernur.
P
Perry Warjiyo0:01
Warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Semuanya shalom. Om swastiastu. Namo Buddhaya. Salam kebajikan.
Rahayu yang sama-sama Ibu dan Bapak. Bapak angg kami hormati, Bapak Menteri dan Kepala BAPENAS, peserta jajaran dan Ibu Ketua OJK beserta jajaran. Terima kasih atas kesempatan. Asumsi makro yang nanti dijadikan dasar untuk penyusunan APBN tahun 2027 telah banyak disampaikan oleh Pak Menteri Keuangan dan Pak Kepala BAPENAS. Oleh karena itu, kami akan menyampaikan pandangan-pandangan Bank Indonesia terhadap asumsi makro, khususnya pertumbuhan, nilai tukar, dan inflasi.
Saya mulai dari pertumbuhan. Kami melihat bahwa 2027 pertumbuhan ekonomi kita akan jauh lebih tinggi. Perkiraan kita 5,1 sampai dengan 5,9. Tapi mendengarkan dari Pak Menteri Keuangan dan Pak Kepala BAPENAS, kami yakin bahwa itu akan lebih ke batas atas kisaran, didukung oleh permintaan domestik yang sangat kuat. Konsumsi ekspor yang juga akan naik 1% dan juga berbagai langkah-langkah untuk mendorong investasi.
Setidaknya kalau kita menyemak tadi dari Pak Menteri Keuangan dan Pak Kepala BAPENAS, ada tiga faktor utama kenapa keyakinan kita pertumbuhan ekonomi kita tahun 2027 akan lebih tinggi. Satu, bagaimana kebijakan fiskal yang tadi disampaikan oleh Pak Menteri Keuangan adalah pro-growth dan pro-welfare dengan berbagai kebijakan-kebijakan tetap pruden dengan defisit yang rendah terkendali, tapi bagaimana efisiensi relokasi anggaran-anggaran yang lebih efisien, lebih produktif dan termasuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Pro-welfare-nya itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Yang kedua tadi juga kita mendengarkan Pak Kepala Bappenas menyampaikan program kerja prioritas nasional baik berkaitan ketahanan pangan, ketahanan energi, maupun yang lain-lain yang terorkestrasi secara baik termasuk juga program-program untuk hilirisasi dan industrialisasi dari sumber daya alam yang digariskan oleh pemerintah.
Yang ketiga, kami juga akan terus memperkuat koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah untuk sama-sama turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Khususnya nanti kami akan jelaskan dukungan Bank Indonesia untuk pertumbuhan khususnya dari kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran maupun juga ekonomi kerakyatan. Itulah mengenai pertumbuhan ekonomi.
Mengenai nilai tukar, kami juga memperkirakan tahun 2027 itu akan menguat dalam kisaran rata-rata tahun 2027 Rp16.800 sampai dengan Rp17.500 yang tadi juga disampaikan oleh pemerintah. Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kita tahun depan 2027 akan menguat dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.800.
Yang pertama tentu saja kita meyakini bahwa prospek perekonomian dunia itu akan membaik, gejolak global sulit diperedam, juga persepsi risiko investasi diharapkan akan membaik dan karenanya mendorong aliran masuk. Yang sekarang baik neraca pembayaran yang tetap sehat dengan defisit transaksi berjalan yang masih rendah. Demikian juga imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik, pasar keuangan yang berkembang, maupun juga dukungan kecukupan kebijakan pemerintah terkait ekspor sumber daya alam termasuk satu pintu melalui pendirian PT DSI dan antara sumber daya Indonesia dan juga implementasi PPDH SDI yang baru.
Kebijakan-kebijakan ini kami meyakini besar dan karena kebijakan ini tidak saja akan memperbesar penerimaan negara untuk pembiayaan bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga akan meningkatkan devisa, meningkatkan cadangan devisa dan mendukung untuk terus menggunakan seluruh instrumen yang tersedia untuk menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Termasuk bagaimana kami tetap menjaga kecukupan cadangan devisa, melakukan intervensi baik secara tunai di dan forward di dalam negeri maupun juga secara forward di luar negeri. Bagaimana kami berkoordinasi dengan fiskal untuk bagaimana imbal hasil portfolio, portfolio inflow asing tetap akan masuk. Juga bagaimana perluasan-perluasan instrumen dan transaksi di pasar uang dan pasar valas dan likuiditas perbankan yang cukup.
Dan tentu saja kecukupan cadangan devisa ke moneter Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Sebagaimana kami juga berdua, Pak Menteri Keuangan dan saya juga menyampaikan kepada publik pada 6 Juni yang lalu, kami koordinasi erat dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dengan meningkatkan daya tarik imbal hasil bagi masuknya aliran investasi asing maupun juga menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Mengenai inflasi, kami meyakini bahwa inflasi tahun 2027 tetap berada dalam kendali sasaran 2,5 plus-minus 1% atau 1,5 sampai 3,5%. Inflasi kita rendah dan ke depan tetap akan rendah. Kami akan menjalankan kebijakan moneter yang konsisten, yang kredibel untuk menjaga inflasi. Kami terus akan berkoordinasi dengan pemerintah baik pusat dan daerah untuk pengendalian inflasi dari harga pangan maupun harga yang diatur oleh pemerintah. Itulah pandangan-pandangan mengenai ekonomi makro.
Dan slide berikutnya kami meng-update kembali beberapa kebijakan yang telah kami sampaikan sebelumnya yaitu kebijakan moneter. Kami memang kami fokuskan untuk menjaga stabilitas khususnya stabilitas dari gejala global. Kami telah sampaikan tujuh langkah dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Satu, intervensi dalam jumlah yang besar untuk stabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global seperti tadi, baik spot tunai di DNDF di dalam negeri maupun offshore NDF. Kami yakinkan bahwa cadangan devisa adalah bagaimana kami menyesuaikan kebijakan suku bunga karena suku bunga global itu naik. Makanya tentu saja kami basis poin dan kemarin 25 basis poin untuk inflow dan sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Nomor tiga tentu saja bagaimana menarik kembali investasi portfolio khususnya melalui SRBI baik berkaitan dengan struktur suku bunga maupun juga nomor empat kami bersama juga fiskal menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan khususnya kemarin mengaktifkan kembali window lelang repo 3, 6, 9 dan 12 bulan. Sehingga kapanpun berapapun bank yang memerlukan Bank Indonesia, kami akan penuhi kebutuhan likuiditasnya sehingga kami yakinkan bahwa pertumbuhan uang primer tetap akan double digit di atas 10%. Seperti kami tunjukkan di Maret 11,8 kemarin juga di bulan Mei 14,8.
Dasar domestik ini untuk mengurangi transaksi sanksi yang relatif. Nomor enam, Yuan Rupiah sudah ditransaksikan di dalam negeri. Currency transaction penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi dengan Indonesia dengan Tiongkok sangat besar tahun lalu lebih dari 25 miliar per tahun. Sekarang Rupiah di dalam negeri dengan lokal khususnya juga dengan Indonesia dan Jepang. Yen Rupiah telah banyak juga digunakan.
Nomor tujuh, kami juga meningkatkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi. Terima kasih Bu Ibu Ketua OJK. Kami bersama terjun ke bank-bank untuk meyakinkan, meyakini bahwa transaksi di perbankan yang dari korporasi maupun dari individu itu harus ada underline-nya.
Bagaimana kami menggunakan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran untuk bersama turut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Moneternya memang tadi kami sampaikan fokus kepada stabilitas tapi makroprudensial dan sistem fokusnya adalah pro-growth. Ada lima langkah yang kami sampaikan.
Nomor satu, penyaluran SBN dari pasar sekunder untuk tentu saja ini adalah sinergi. Peningkatan insentif likuiditas makroprudensial ini berupa penurunan kewajiban kepada bank-bank yang menyalurkan kredit. Koordinasi dengan KSSK khususnya debat dengan OJK termasuk kredit ke sektor-sektor prioritas pemerintah yang tadi oleh Pak Kepala Bappenas sudah sampaikan. Kami berikan insentif likuiditas juga kami mendorong bank-bank untuk juga bagaimana semakin melakukan efisiensi sehingga suku bunga kredit bisa lebih rendah.
Sampai dengan Mei 26 kami sudah memberikan insentif. Tiga adalah kami longgarkan seluruh instrumen kebijakan makroprudensial. Kami longgarkan termasuk juga bagaimana bersama OJK, Kementerian, Perbankan, Dunia Usaha mempercepat penyaluran kredit mengatasi bottleneck dari permintaan dan penawaran dalam program PINIS percepatan intermediasi keuangan.
Bahwa di ekonomi keuangan digital tidak hanya meningkatkan produktivitas. Antara lain kami gerakkan 46 kantor Bank Indonesia elektronifikasi transaksi pemerintah baik bansos maupun keuangan anggaran pemda juga perluasan-perluasan QRIS antar negara lokal karet.
Saksen BD yang terakhir tentu saja termasuk untuk yang nomor empat ini kami akan terus perluas QRIS setelah dengan India untuk turis dari India. Nomor lima, terus kami memperluas pengembangan UMKM dan ekonomi keuangan inklusif baik konvensional maupun syariah melalui 46 kantor-kantor Bank Indonesia. Baik pengembangan wirausaha, kemudian kopi, maupun juga pengembangan kemandirian ekonomi di pondok pesantren.
Demikian Bapak Ketua, Bapak, Ibu yang dapat kami sampaikan mengenai sinergitas ini sangat penting dan terus yang erat akan kami teruskan untuk sama-sama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Warahmatullahi wabarakatuh.
N
Narrator16:01
Jelajahi cara baru mendapatkan informasi. Download Metro TV Extend sekarang.