Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Salam sejahtera bagi kita semua.
Teman-teman media cetak, media elektronik, saya bersama Pak Gubernur Bank Indonesia, Ketua LPS, Pak Menteri Keuangan, dan Ketua OJK. Tadi rapat dengan Bapak Presiden dan dilaporkan kepada Bapak Presiden kondisi perekonomian saat ini yang dari hasil tadi pengumuman BPS di kuartal pertama baik kita pertumbuhannya di 5,61 dan pertumbuhan ini adalah di antara negara G20 tertinggi. Jadi kita di atas Cina, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab, bahkan Amerika. Dan pertumbuhan ini di atas daripada ekspektasi dari berbagai lembaga yang biasanya mereka rata-rata di angka 5,2.
Kemudian dari beberapa pertumbuhan kita melihat bahwa pertumbuhan konsumsi baik di 5,52%. Kemudian juga konsumsi pemerintah juga naik 21,31%. Kemudian juga dari segi ekspor dan impor juga positif. Dari segi lapangan usaha, sektor industri, sektor perdagangan, sektor administrasi pemerintahan, jasa lainnya dan juga transportasi pergudangan, pertanian, dan konstruksi juga berjalan dengan baik.
Kalau secara indikator makro ini, inflasi juga berhasil ditekan di 2,42% turun dari 3,48% di periode yang lalu di bulan Februari di bulan Maret. Kemudian juga indeks keyakinan konsumen di 122,9, neraca dagang positif untuk 71 bulan di 3,32 bilun. Kemudian cadangan devisa per Maret 148, neraca pembayaran surplus 6,1 dan realisasi investasi naik 7% menjadi 498,8.
Kemudian kredit growth di 9,49%, dana pihak ketiga berarti trust dari masyarakat tinggi 13,5%. Dan kemudian tentu beberapa hal yang menjadi perhatian tentu terkait dengan Bapak Presiden melihat terkait dengan capital outflow dan capital outflow tadi didalami bahwa disebabkan oleh satu oleh pasar modal, kedua SBN dan ketiga dinetralisasi oleh SRBI dan tadi disepakati dilaporkan ke Bapak Presiden, kesepakatan kerja sama antara BI dan Menteri Keuangan sehingga ke depan ini bisa dijaga terkait dengan capital outflow.
Dan selanjutnya terkait dengan rupiah Bapak Presiden menanyakan nanti dijelaskan oleh Pak Gubernur terutama juga terkait dengan diperdagangkannya mata uang Indonesia secara forward di beberapa negara. Silakan, Pak.
Terima kasih, Pak Menko. Rekan-rekan sekalian, Pak Menteri Keuangan, Bu Ketua OJK, Pak Ketua LPS, selamat sore. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tadi dibahas dan mendapatkan arahan dari Bapak Presiden mengenai nilai tukar berkaitan dengan dua hal penting mengenai nilai tukar. Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalued, undervalued dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalued tadi disampaikan oleh Pak Menko, fundamental kita itu kuat, pertumbuhan sangat tinggi 5,61%, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, inilah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat.
Nah, kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua, yaitu ada faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman. Faktor globalnya apa? Yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini adalah satu harga minyak yang tinggi, dua suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi, yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47%. Demikian juga dolar yang menguat dan Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia.
Nah, memang dalam secara musiman April, Mei, Juni memang permintaan terhadap dolarnya tinggi. Ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang dan juga untuk jemaah haji. Tapi rupiah adalah undervalued dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat. Itu nomor satu.
Nomor dua, ya kami melaporkan pada Pak Presiden dan Pak Presiden menyetujui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan. Tujuh langkah pentingnya yang tadi kami laporkan apa? Satu, kami akan terus melakukan intervensi secara tune dan domestic delivery di dalam negeri dan juga non-deliver forward NDF di pasar luar negeri di Hongkong, di Singapura, di London, di New York. Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu.
Yang kedua, tadi Pak Menko sudah menyebutkan karena sementara ini SBN itu keluar kemudian saham meskipun dalam minggu-minggu terakhir hasil koordinasi dengan Pak Menteri Keuangan sudah mulai inflow tapi year to date masih outflow. Sementara saham terjadi outflow sehingga kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow sehingga inflownya SRBI bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham itu. Koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portfolio asing itu masih year to date-nya masih terjadi inflow dan itu memperkuat nilai tukar rupiah.
Nomor tiga ini juga koordinasi dengan Pak Menteri Keuangan, BI akan terus membeli SBN dari pasar sekunder. Ini koordinasi sudah awal tahun koordinasi dan kita lakukan, kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp3,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter.
Kemudian yang keempat, kami juga dengan Pak Menteri menjaga likuiditas di perbankan dan pasar lebih dari cukup, yaitu terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu dobel di terakhir itu pertumbuhan uang primernya adalah 14,1%.
Nomor lima yaitu adalah yang kami sudah keluarkan adalah pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying yang dulunya 100.000 dolar per orang per bulan kita turunkan 50.000 dolar per orang per bulan. Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan termasuk di dalam negeri itu adalah pasar yuan, Chinese yuan dengan rupiah sudah berkembang di dalam negeri. Karena local currency kita dengan Cina sama yuan, Cina sama rupiah itu sangat tinggi dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik yuan sama rupiah termasuk ini local currency sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar sehingga itu bisa memperkuat.
Nomor enam adalah penguatan untuk pasar intervensi kami di offshore non-deliver forward supaya kita lebih mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di offshore di luar negeri. Selain intervensi yang terus kami lakukan, kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih banyak sehingga itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah.
Nomor tujuh adalah peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi. Kami kirim pengawas ke sana koordinasi dengan Bu Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga.
Terima kasih, Pak Menko. 25.000 ya yang tadi pembatasan pembelian dolar yang sudah kami turunkan dari 100.000 menjadi 50.000, kami persiapkan kami akan turunkan lagi menjadi 25.000 sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying. Ya, itu yang kami akan perkuat, ini akan kami perkuat dalam negeri.
Sudah cukup. Oke, berarti yang lain yang terakhir terkait dengan regulasi devisa hasil ekspor sumber daya alam. Jadi, revisi perubahan terhadap PP36 sudah difinalisasikan dan akan diberlakukan per 1 Juni 2026. Jadi, ya perubahan bahwa DH SDA wajib masuk ke dalam negeri dan dikonversi ke rupiah maksimum 50%. Dan juga terkait dengan sektor ekstraktif atau oil and gas itu berlaku seperti yang sekarang yaitu yang berlaku 3 bulan.